Tugas Guru adalah Memanusiakan Manusia

oleh : Yogyantoro

(Guru terpilih untuk program BGMD Australia)

Ini adalah kisah perjalanan hidupku hingga sampai menjadi  guru di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Bayangan gemerlap lampu kota seakan hanya ada dalam mimpi dan mengisi relung kenangan. Meninggalkan cerita tentang masa-masa sekolah yang begitu dinamis di kampung halaman. Kampung halamanku adalah sebuah kota kecil yang di kelilingi pegunungan karst di pantai selatan pulau Jawa. Kota yang terkenal dengan tempe kripik dan sego gegog itu bernama Trenggalek. Kabupaten Trenggalek adalah sebuah kabupaten di sebelah barat daya dari ibukota provinsi Jawa Timur. Disinilah aku menimba ilmu dari TK ( Taman Kanak- Kanak ) hingga bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) di SMAN 1 Trenggalek.

Banyak ilmu yang saya dapatkan dari guru-guruku yang sungguh mulia dan besar jasanya bagi kehidupanku saat ini.Mereka banyak memberikan inspirasi untuk ku bawa sebagai bekal berharga dalam memandang dan menilai arti hidup ini. Di mataku mereka selalu tampak muda meskipun usia mereka tak pernah berhenti beranjak ke angka-angka yang lebih tinggi. Itulah akhirnya yang menyadarkanku bahwa kebahagian dan ketentraman mereka dalam mengarungi hidup adalah buah dari semangat berbagi. Ketulusan memberi dan memaknai kehidupan anak didiknya agar berakal dan berbudi.

Menjadi guru akhirnya menjadi pilihanku yang kemudian mendorongku untuk sekolah lebih tinggi demi mengejar cita-cita yang telah bulat terpatri di dalam hati.Menuntut ilmu setinggi-tingginya bukan lagi sebuah ambisi tetapi asa yang terkunci di dalam hati untuk benar-benar bisa ku wujudkan menjadi nyata dan bukan sekedar mimpi.Universitas Negeri Malang adalah tempat pertamaku menuntut ilmu di bangku perguruan tinggi.Kampus ini termasuk LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) yang ternama di Jawa Timur. Lulus tahun 2009 kemudian aku semakin  memantapkan ilmu yang telah kudapat dengan kuliah di STKIP PGRI Tulungagung dan berhasil lulus di tahun 2011.

Sesuai dengan cita-citaku dengan berbekal ijazah di tanganku, aku melamar menjadi guru di sebuah lembaga bimbingan belajar di Trenggalek. Alhamdulillah aku diterima.Ada perbedaan yang kentara sekali yang aku rasakan antara bekerja sebagai guru dan bukan guru. Sebelumnya aku bernah bekerja part-time sebagai teknisi, penyiar radio bahkan waiter di hotel. Menjadi guru benar-benar sebuah anugerah, setiap kata yang kita gunakan untuk menerangkan materi pelajaran, senyum yang kita berikan untuk menyapa murid atau tatapan mata dan sentuhan untuk menghangatkan suasana di kelas serta cerita dan motivasi yang kita berikan adalah obat dan vitamin untuk tubuh kita sendiri.Rasalelah, penat, dan bosan yang biasa kita rasakan saat bekerja full time seakan tak pernah lagi menjadi alasan untuk menyerah.Sirna ditelan kebahagiaan hakiki ketika ilmu yang kita berikan telah memberi makna dan mewarnai kehidupan siswa-siswa kita.Dari yang tahu sedikit, menjadi tahu banyak. Dari yang sebelumnya tidak bisa mengerjakan soal-soal di sekolah, menjadi lihai dalam menjawab soal-soal.Semuanya seperti menyiram bunga yang daunnya kuning layu di lahan kering dan akhirnya menyaksikan daunnya mulai hijau meranau dan kuncup bunganya mekar merekah. Bahagia.

Gelora yang semakin menggelegak dan meluap-luap mengantarkanku pada pendaftaran CPNS atau Calon ASN tahun 2013 di sebuah kabupaten kecil di pedalaman pulau Kalimantan tepatnya di bumi Tambun Bungai, julukan untuk provinsi Kalimantan Tengah. Menginjakkan kaki di Muara Teweh, ibukota dari kabupaten Barito Utara untuk pertama kalinya sama dengan meletakkan batu pertama untuk memulai sebuah perjuangan. Tahun 2016 aku resmi menjadi ASN setelah menyelesaikan Diklat Prajabatan Golongan III Angkatan V Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2015.

Memang, menjadi guru di desa terpencil seperti di pedalaman Kalimantan misalnya, mendidik anak kurang beruntung, miskin, tidak mempunyai rekor akademis  yang baik tentu merupakan suatu tantangan tersendiri. Akan jauh berbeda mendidik anak-anak orang kaya dan juga cerdas di kota atau di sekolah berlabel internasional. Menjadi guru desa memerlukan pengabdian yang tinggi untuk kepentingan pendidikan. Guru desa seperti aku ini terus belajar untuk  senantiasa berkarya. Bukankah siapapun guru bisa menjadi mulia karena karya-karyanya lebih-lebih bila diukur dengan pengabdian yang tanpa pamrih dan pengabdian bagi kepentingan kemanusiaan.

Sesuai surat perintah penugasan dari BKD kabupaten Barito Utara, aku di tempatkan (dikirim oleh Tuhan) di sebuah sekolah di pinggiran sungai Barito. Di bantaran sungai Barito setiap hari kulihat rumah-rumah apung yang dalam bahasa setempat di sebuat rumah lanting.Untuk menuju SMPN 4 Muara Teweh di desa Lemo II tempatku mengajar, aku harus melewati bukit dan lembah di jalan yang membelah hutan yang cukup lebat.Aku juga harus menggunakan angkutan sungai yaitu kapal fery setiap hari. Angkutan sungai  melayani warga di pedalaman dan desa –desa yang tidak bisa dilalui oleh moda angkutan darat. Di pedalaman Kalimantan yang di lalui oleh sungai ada beberapa jenis angkutan sungai yang beroperasi seperti kelotok bermotor, motor getek, long boat dan bus air.

 

Aku adalah saksi hidup tentang potret pendidikan di daerah-daerah pinggiran di Kalimantan. Karakteristik, kemampuan dan semangat belajar anak-anaknya berbeda dengan mereka yang terlahir dan besar di pulau Jawa.Tetapi aku justru menyadari bahwa disinilah aku seharusnya berada.Negara harus hadir di tempat-tempat seperti ini.Mereka anak-anak pinggiran yang acap kali termarginalkan adalah saudara sebangsa. Sejauh apapun jarak desa-desa tempatku mengajar dari ibukota, tetaplah sama yaitu Indonesia.

Darahku tetap darah muda. Bara api dalam jiwaku harus tetap menyala. Itulah tekadku untuk tidak pernah berhenti dan tak boleh ada yang menghentikan langkahku untuk maju dan makin menderu menginspirasi sepanjang waktu.Berjibaku untuk negeri Indonesia melalui pendidikan. Gairah baru dan baru tetap terjaga setiap hari seirama dengan tema Hari Guru Nasional 2016, “ Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Thomas Alva Edison dikenang karena karyanya menciptakan bola lampu. Demikian pula tokoh-tokoh yang lain. Guru pun juga akan punya karya yang akan senantiasa dikenang oleh anak-anak didiknya. Cerita atau dongeng dari guru akan tetap terngiang. Penjelasan tentang materi pelajaran tak lekang dimakan zaman. Inspirasi yang pernah diberikan oleh guru juga akan tetap abadi sampai dibawa mati. Itulah mahakarya seorang guru yang akan tetap bisa dikenang meskipun seiring berlalunya waktu. Kemilau sang guru yang tulus dan ikhlas berbagi ilmu akan tetap abadi.

Itupula yang menginspirasiku untuk tidak pernah berhenti menulis untuk menginspirasi di sela-sela kesibukanku mengajar dan mendidik anak-anakku di kelas.Aku berusaha untuk berkaca dari Bu Mus, yang digambarkan secara kasat mata oleh Andrea Hirata dalam buku Laskar Pelangi. Bu Mus selalu tampak berbahagia ketika mengajar, pandai bercerita, tegas dan berwibawa. Guru seperti Bu Mus adalah guru tanpa pamrih, ikhlas, dan mejadi sumur ilmu pengetahuan di ladang gersang. Konstribusinya bagaikan manfaat yang diberikan oksigen untuk memberi nafas kehidupan makhluk di bumi. Seorang guru yang menekankan pengajaran sebagai proses memotivasi, memberi inspirasi dan menyalakan api semangat agar tidak pernah padam. Mengantarkan siswa-siswanya yang berada di pedalaman Bangka Belitung menjadi bintang di angkasa.

Jika Bu Mus mempunyai bintang-bintang yang kini bertebaran diangkasa, akupun sebagai guru juga memiliki bintang kejora. Aku akan ajak kawan-kawan seperjuangan di tanah air Indonesia pada umumnya dan di pedalaman Kalimantan sepertiku, khususnya, untuk selalu memeliharanya agar tetap berkedip dan bersinar. Dengan bersandar pada pegangan dan haluan yang sama dengan mantan gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang aku dan kawan-kawan guru di bumi Tambun Bungai meneriakkan Kalteng Harati baik melalui aplikasi di ruang kelas atau dilapangan maupun melalui goresan penaku. Kalteng Harati merupakan gagasan baru yang dicanangkan dibidang pendidikan. Program Kalteng Harati diartikan sebagai Kalteng yang “cerdas”. Harati dalam bahasa Dayak Ngaju atau Katingan lebih menunjukkan kepada suatu sikap, perilaku yang tanggap keadaan.

Foto: Kegiatan Diskusi di Kelas

Aku sebagai guru mendukung program Kalteng Harati salah satunya melalui goresan pena. Aku mulai menulis di media cetak sejak tahun 2009 saat aku masih tinggal di Trenggalek atau Malang tempatku kuliah.Saat itu seringkali dimuat di Radar Tulungagung dan radar Blitar, Jawa Pos Grup.Kini aku tinggal di Kabupaten Barito Utara tak pernah mau surut menulis.Aku hanya ingin terus berkarya dan menginspirasi. Beberapa judul karyaku yang dimuat di Kalteng Pos tidak hengkang dari masalah pendidikan di negeri ini seperti  Obor Untuk Kalteng Harati, UN Bukan Panah Arjuna, Membumikan Pendidikan Karakter di Sekolah, Alarm untuk Agen Pendidikan, ANEKA Amunisi Baru Jagat Birokrasi , K-13 Sebuah Film Hollywood dan Guru Sejati Menuju Kalteng Harati. Semua aku tulis untuk tanggung jawab moral sebagai pendidik yang hadir untuk memecahkan persoalan-persoalan di bidang pendidikan sekaligus menebar inspirasi.

Foto: Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas

Veni, vidi, vici.Aku datang ke bumi Tambun Bungai, aku melihat beberapa wajah pendidikan yang masih gelap, aku telah menaklukan keinginanku hidup enak di kampung halaman.Hingga kini aku mulai melihat bintang-bintang kejora mulai memunculkan sinarnya di langit malam bumi Tambun Bungai.Tak pernah aku dapati peserta didikku di sekolah mengeluh. Mereka memang Uluh Itah (orang Dayak Bakumpai) yang berbeda suku denganku yang dari suku Jawa.Tetapi kami tetap menyadari bahwa kami Indonesia.Mereka tetap semangat belajar dan terus belajar.

Aku mengajarkan kepada mereka untuk selalu fun dan gembira belajar bersama. Meskipun cuaca hujan atau hari yang panas menyengat tak ada kalimat “  Akay… balasu banar andau jitu”. ( Aduh… panas sekali hari ini). Yang ada adalah panasnya bara semangat yang berkobar di dada mereka.  Itulah mengapa aku semakin bangga menjadi guru sebagai kepanjangan tangan dari negara untuk melayani saudara-saudara kita setanah air dan sebangsa. Kebanggaanku akan kehilangan makna apabila tidak diiringi dengan komitmen  untuk semakin meningkatkan kualitas diri sebagai guru serta membawa angin perubahan bagi negara tercinta.

Foto: Kegiatan Belajar di Kelas

          Bantu Guru Melihat Dunia atau BGMD 2018 merupakan salah satu program yang sungguh menggugah gairah saya untuk meningkatkan horizon tentang kebudayaan dan peradaban dunia serta mengembangkan  cakrawala berpikir tentang dunia pendidikan di negara-negara maju. Selain itu motivasi saya mengikuti program ini adalah ingin bertemu dengan orang-orang baru dan bisa sebanyak-banyaknya belajar tentang pendekatan, metode, teknik atau teknologi pembelajaran serta bertukar pikiran (sharing) mencakup beragam hal terutama masalah pendidikan. Saya juga ingin menularkan kemampuan bahasa Indonesia saya melalui pendekatan khasanah sastra sebagaimana Kiparl Sigh pernah berkata bahwa sastra mampu memperhalus budi pekerti. Saya akan membagikan ilmu tentang bagaimana menulis cerpen, puisi atau berbagai artikel dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar atau sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Mengajarkan bahasa Indonesia adalah salah satu kebahagiaan yang besar bagi saya karena mampu memperkenalkan Indonesia pada dunia.

        Ada banyak sekali tantangan yang saya hadapi saat menjalani aktivitas mengajar di kelas diantaranya adalah menghadapi peserta didik yang  tidak memiliki semangat belajar dan menyiasati keterbatasan fasilitas (sarana dan prasarana) pendukung kegiatan belajar. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di kelas saya mampu mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan Everyday Games. Saya mengajar dengan pendekatan dan metode permainan setiap hari. Peserta didik akan merasa senang dan menganggap bahwa belajar dapat mereka anggap sebagai sarana bermain atau bermain games. Mereka harus mengumpulkan poin setiap harinya. Mereka juga dengan leluasa mengetahui berapa poin yang sudah terakumulasi setiap saat dan akn mereka ketahui juga total poinnya setiap semester. Ini yang akan menjadi rujukan penentu nilai raport mereka. Setiap keberhasilan mereka dan keaktifan mereka dalam menjawab pertanyaan dengan kriteria cepat, tepat dan cermat akan dicatat secara manual dalam buku scoring point. Keterbatasan fasilaitas pendukungpun dapat diatasi dengan metode ini. Belajar itu tidak harus mahal tetapi yang penting adalah tepat sasaran dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada tetapi tetap meningkatkan human resources dari tenaga pengajar dan peserta didik. Pengajar yang kreatif dan bermutu akan melahirkan peserta didik yang berbobot.

          Banyak sekali ide yang ingin saya kembangkan untuk memperbaiki cermin bopeng pendidikan di Indonesia. Beberapa telah saya laksanakan dengan hasil yang cukup melegakan dan beberapa yang lain ingin segera saya aplikasikan karena saya percaya akan memiliki potensi yang besar mengubah wajah pendidikan di Indonesia yang begitu carut-marut. Salah satu hal nyata kegagalan di dunia pendidikan kita adalah semakin merajalelanya para koruptor di negeri ini. Karakter anak bangsa yang semakin memprihatinkan seperti tawuran pelajar, ketidakjujuran dalam Ujian Nasional, kriminalitas yang dilakukan pelajar dan hubungan yang tidak harmonis antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa atau guru dan wali murid. Visi dan misi saya sebagaimana yang telah digariskan oleh banyak pakar pendidikan seperti Ki Hajar Dewantoro adalah pendidikan harus mencakup 4 (empat) hal yaitu:

  1. Mampu menjadikan peserta didik memiliki kemampuan akademik dasar yang baik (basic academic)
  2. Mampu menghasilkan peserta didik yang dapat bergaul dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia, alam dan Tuhan serta senantiasa survive menghadapi situasi dan kondisi apaapun di sekitarnya.
  3. Mampu menjadikan peserta didik yang memiliki kemampuan problem solving atau pemecah masalah yang unggul.
  4. Mampu menghasilkan peserta didik yang bisa mengembangkan minat dan bakat khusus sebagai potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu.  

        Saya sangat ingin belajar tentang ilmu pendidikan serta pengetahuan dan keterampilan mengembangkan karakter yang unggul di negara yang saya tuju yang bisa menjadi mentari bagi pendidikan anak-anak bangsa di Indonesia. Saya melihat diri saya kedepan sebagai pelopor sekaligus perintis untuk pendidikan yang lebih baik di Indonesia.

        Setelah mengikuti program Bantu Guru Melihat Dunia atau BGMD 2018 saya ingin menerapkan semua ilmu yang telah saya dapatkan agar membawa pencerahan terhadap wajah pendidikan di sekolah saya khususnya dan sekolah-sekolah yang ada di Indonesia pada umumnya. Ada beberapa program yang ingin saya laksanakan diantaranya:

  1. Membiasakan menggunakan bahasa yang sesuai dengan PUEBI dengan mengadakan lomba-lomba menulis artikel, puisi dan cerpen antar kelas.
  2. Mengembangkan sastra dan apresiasi sastra Indonesia sebagai teknik meningkatkan karakter bangsa.
  3. Menerapakan teknik-teknik terbaru yang telah saya dapat dari negara tujuan BGMD 2018 agar tercipta kegiatan belajar dan mengajar yang efektif dan menyenangkan.

          Saya akan berusaha merealisasikan program tersebut dengan menyosialisasikan terlebih dahulu dan mendiseminasikan kepada rekan guru, masyarakat dan stakeholder serta pemangku bidang pendidikan. Saya akan membagikan sebanyak banyaknya ilmu kepada sebanyak banyaknya guru melalui forum MGMP maupun KKG agar sebuah mutiara ilmu yang bermanfaat akan tersebar dengan cepat membawa benih-benih perubahan untuk tunas-tunas bangsa. Saya percaya bahwa program ini akan membawa dampak yang luar bisa bagi perkembangan pendidikan di Indonesia agar lebih berkarakter, bermartabat dan sukses memanusiakan manusia Indonesia yang lebih beradab.

***

3 thoughts on “Tugas Guru adalah Memanusiakan Manusia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *