Jepang Pacu Sikap Kritis dengan Pertukaran Pelajar

Berbicara tentang Jepang, pembahasan yang acap diangkat adalah mengenai perpaduan antara teknologi serta sistem pendidikan yang diterapkan. Tidak sedikit tulisan yang mengangkat tema kelebihan sistem belajar di Jepang. Namun, melalui tulisan ini saya ingin membagikan artikel mengenai usaha keras pemerintah Jepang dalam mengatasi permasalahan yang mereka miliki. Tidak banyak yang mengetahui bahwa karakter personal orang Jepang adalah pemalu. Bagi mereka, mengemukakan pendapat secara lantang bukanlah menjadi budaya yang dibiasakan sejak kecil. Sehingga berdasarkan pengalaman penulis yang mendapatkan kesempatan belajar di beberapa negara (Inggris, Thailand, Jepang dan Indonesia), maka suasana kelas di Jepang tidak se”hidup” suasana di negara-negara lain yang disebutkan. Kabar ini bukanlah merupakan kabar yang mengejutkan untuk para pecinta budaya Jepang. Karena di Jepang terdapat peribahasa populer yang berbunyi :

出る杭は打たれる  (Deru kugi wa utareru) / Yang menonjol akan dipalu ke bawah.

Menurut pemahaman penulis, para tetua sebelumnya beranggapan bahwa lebih baik mengikuti arus, daripada harus menjadi sosok yang menonjol daripada yang lain. Namun lambat laun, pemuda Jepang mengakui bahwa filosofi ini tidak baik untuk dijadikan sebagai pembenaran sikap diam. Melalui berbagai forum diskusi, pemuda Jepang acapkali mengutarakan pentingnya mengemukakan pendapat agar tidak terjadi salah paham antara masing-masing pihak yang terlibat. Pendapat inipun juga disikapi secara serius oleh pemerintah Jepang. Untuk memberikan solusi dari budaya “pemalu”. Saat ini mulai banyak kegiatan yang dilakukan pemerintah Jepang dalam upaya memacu pemuda Jepang untuk bersikap kritis dan mengungkapkan pendapat mereka serta mengikis stereotipe pemalu nya orang Jepang.

Berikut ini cara-cara yang mereka lakukan

Mengundang Mahasiswa Asing untuk melakukan presentasi mengenai negara asal kedatangan. 

Berdasarkan data yang diperoleh melalui situs JASSO[1], pada tahun 2017, mahasiswa asing yang datang ke Jepang  adalah sebanyak 267,042. Hal ini mengungkapkan fakta bahwa jumlah mahasiwa asing yang datang ke Jepang meningkat sebanyak 11, 6 persen bila dibandingkan dengan tahun 2016. Melalui fakta ini, pemerintah Jepang dan institusi pendidikan di Jepang melakukan inisiatif berupa mengadakan acara yang melibatkan mahasiswa Asing. Salah satu kegiatan yang acap dilakukan adalah mengundang mahasiswa asing untuk melakukan presentasi serta tanya jawab mengenai negara asal kedatangan ke sekolah-sekolah terdekat.

Tren Jumlah Siswa Internasional Berdasarkan Jenis Kelembagaan (Per 1 Mei) [1]
Melakukan diskusi bertemakan pemimpin masa depan

Selain mengundang para mahasiswa asing untuk melakukan presentasi mengenai daerah asal, acap pula diadakan sesi diskusi antara pelajar asing dan pelajar Jepang yang bertemakan pemimpin masa depan. Program ini biasanya dilakukan pada saat liburan sekolah, atau saat tahun ajaran baru dimulai. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempeluas cara pandang murid Jepang mengenai dunia, dan solusi apa yang bisa mereka bagikan untuk dunia.

Diskusi antara pelajar International dan pelajar Jepang

Melakukan pertukaran pelajar ke Negara lain

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh the Japan Association of Overseas Studies (JAOS) [2], setiap tahunnya terdapat 200.000 pelajar Jepang yang melakukan studi banding ke luar negeri.  Sedangkan data [3] lainnnya mengungkapkan antara 2009 dan 2015 persentase orang Jepang yang belajar di luar negeri kurang dari sebulan meningkat dari 46 dari total menjadi 61 persen. Meskipun dilakukan dalam kurun waktu yang singkat, tujuan utama dari studi banding yang mereka lakukan adalah untuk menciptakan pola pikir global, serta untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris.

Stasiun di Jepang

 

 

Jika Jepang dengan segala kelebihan yang mereka miliki, masih terus mencoba memperbaiki segala aspek yang masih kurang. Dan terus memicu para penduduknya untuk keluar negeri ataupun melakukan diskusi international demi terciptanya cara pandang yang luas dan pola pikir kritis, apakah kita sebagai penduduk Indonesia merasa cukup untuk sekedar menimba ilmu di dalam negeri tanpa memperluas cara pandang ke seluruh dunia? Lalu bagaimana bila PPI dunia mengajak seluruh pelajar Indonesia di dunia untuk bergerak bersama meningkatkan kualitas pendidikan dengan program bantu guru melihat dunia, tertarikkah???

Referensi :

[1] Jasso. 2017. “International Students in Japan 2017”. https://www.jasso.go.jp/en/about/statistics/intl_student/data2017.html (diakses pada 31 Maret 2018)

[2] JAOS. 2017.”Number of Japanese studying abroad, including working adults, appears to exceed 200,000 “. http://www.jaos.or.jp/wp-content/uploads/2018/01/JAOS-Survey-2017_Number-of-Japanese-studying-abroad180124.pdf (diakses pada 31 Maret 2018)

[3] Mccrostie, James. 2017.”More Japanese may be studying abroad, but not for long”.https://www.japantimes.co.jp/community/2017/08/09/issues/japanese-may-studying-abroad-not-long/#.Wr-BoOhuZhE (diakses pada 31 Maret 2018)

 

oleh :

Fadilla Zennifa

Doctoral candidate Kyushu University, Japan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *